Langsung ke konten utama

Postingan

Bapak

 Setahun sudah bapak kapundut, 3 hari setelah ulang tahunku. Bapak ...meski bapak tidak membaca tulisanku ini, tapi saya yakin bapak selalu menyambangi kami. Setiap kali memungut ingatan tentang bapak, satu yang lekat dengan beliau adalah bapak yang sabar, bapak yang tidak pernah marah, bapak yang lembut hatinya.  Setiap sore mengantar anak perempuanmu ngaji, mengendarai motor pelan sekali. Pulang ngaji Bapak hampir selalu mampir di warung burjo, makan berdua lalu melanjutkan perjalanan pulang kembali. Bapak yang selalu rajin mengupaskan rambutan buat anaknya, bapak yang tak banyak bicara. Bapak yang penyayang, yang hatinya jembar. Saya masih ingat setiap pagi selalu berbagi kopi hitam dengan bapak, lebih tepatnya saya ngrusuhi kopinya bapak. Kopi hitam yang jadi bekal kekuatan bapak untuk menjemput rezeki buat keluarganya. Hampir tiap hari beliau habiskan dari pintu rumah satu ke rumah yang lain, tanpa banya mengeluh apalagi pada kami anaknya.  Bapak, pastiny...

Benarkah puisi lahir dari patah hati

Menulis puisi memang tak semudah menulis prosa / karangan bebas. Butuh diksi yang indah, ide yang muncul pun hasil dari melihatt keindahan  dan penafsiran punbeda beda, antar pembaca dan si pembuat puisi punya interprestasi beda. Semakin sulit dipahami, apakah semakin bagus puisinya? Entahlah, tapi buatku setiap tulisan punya pembacanya sendiri.  Orang yang pandai menulis puisi atau bisa disebut sastrawan mampu memaksimalkan panca indranya. Melihat keindahan langit tatkala bulan undur diri digantikan dengan matahari yang sepanjang hari membantu manusia berkejaran dengan waktu mengejar impian - impiannya.  Menyesap nikmatnya kopi sembari mendengar riuh kicau burung yang gembira menyambut mentari, menclok dari satu ranting ke ranting yang lain, demi mencari satu dua serangga lalu menari , bertasbih, begitu seterusnya sampai senja lalu kembali ke sarangnya. Puisi lahir dari kerinduan yang mendalam, padahal adanya rindu karena cinta. Jadi, puisi lahir dari seorang pencinta, s...

Refleksi 16 Tahun Pernikahan

 Beberapa hari yang lalu usia pernikahan kami tepat di angka 16 tahun. Rasanya? Ya pasti alhamdulillah tsumma  alhamdulillah, di usia yang tidak bisa digolongkan pasangan junior  tetap bahagia tetap sama rasanya. Masih romantis dengan versi kami. Romantis tanpa bunga ataupun dinner  resto bintang lima. Bagi kami duduk bareng berjam jam mendengarkan satu sama lain bercerita, banyakan dia daripada saya itu adalah romantisme. Romantis bagi kami itu njemur pakaian bareng, atau diskusi ngalor ngidul, membahas A sampai Z. Cerita tentang masa kecilnya, dia yang dari kecil suka mancing, dia yang sedari kecil harus ngarit dan angon, dan manggul gabah. Kalau dulu aku nggak manggul gabah mungkin bisa lebih tinggi dari sekarang, selorohnya. Karena prihatinnya dari kecil itu, dia jadi sosok ayah yang akan menghadirkan apapun untuk anaknya.  16 Tahun bersama dia berkenan membantu pekerjaan yang menurut sebagian besar lagi - laki enggan melakukannya. Ketika dia dap...

MPLS Pasca Pandemi

 Hari ini pertama anak masuk sekolah setelah liburan kenaikan kelas. Sulungku bilang "liburannya cepet banget, tahu tahu masuk". Iya memang seperti itu kak, waktu nggak akan menunggu kita, dia akan terus bergulir. Rasanya baru kemarin kamu ganti seragam biru putih.  Apakah setiap ibu merasakan kekhawatiran ketika anaknya berada di luar rengkuhannya? Hingga tak cukup saling berkabar via chat whatsapp, namun koneksi doa sholawat tak boleh putus, dengan harapan mereka selalu terjaga dijaga Allah melalui malaikat muqarrabin serta sholawat. sebab satu sholawat akan menjelma menjadi malaikat malaikat .  Hari ini pula aku mulai ngaji alala dengan anakku. Alala merupakan kitab kecil mengenai bagaimana menuntut ilmu. Bahwa para pelajar harus sabar, loma, cerdas, ada guru yang kompeten di bidangnya, ada sangu/bekalnya, dan dalam jangka waktu yang lama.  Syeikh google memang bisa jadi lebih canggih dan pintar. Mau tanya apapun google tahu solusinya entah...

Urip iku urup

Salah satu mood booster kami adalah jalan keliling naik motor sembari ngobrol ngalor ngidul. Membahas pengendara yang jalan ditengah dengan percaya diri seolah jalan miliknya sendiri. Lalu mengingatkan pengendara yang standart motornya belum di posisi yang benar. Dimana pun kita butuh rasa empati dan tata krama. Kami jarang sekali membunyikan klakson sekalipun motor di depan kami mengerem mendadak atau berjalan layaknya keong yang kelaparan.  Benar adanya jika pengalaman terbaik adalah belajar dari kesalahan orang lain. Ketika melihat mereka yang melakukan kesalahan atau bahkan kemaksiatan, yang paling bisa kita lakukan adalah Mendoakan kebaikannya alih alih menghakimi mereka.  Beruntung punya pasangan yang satu frekuensi, yang nggak suka ngurusi urusan orang lain, menjadi komentator bahkan hakim. Hidup ini ibarat kita mengerjakan ujian yang selesai atau tidak, ketika harus dikumpulkan, kita tak bisa menundanya.Jika masih sempat menengok kanan kiri, yang ada tugas ...

Home sweet home

Waktu kecil aku memaknai rumah sebagai tempat berlindung dari panas dan hujan. Seiring bertambahnya usia, rumah memiliki banyak makna. Bukan sekedar tempat untuk tidur setelah lelah beraktivitas, namun rumah adalah tempat yang mampu menampung kesedihan yang tak lebih panjang masanya daripada kegembiraan. Rumah adalah tempat yang selalu menerima penghuninya apa adanya.  Banyak cerita anak yang dihujani masalah di luar, lalu dia mencoba pulang ke rumah namun yang dia dapat adalah penolakan. Orang terdekat yang dia kira mempunyai hati yang lapang justru jadi orang pertama yang mematahkan hatinya.  Aku tidak ingin membangun rumah yang dingin dan sunyi. Aku ingin membangun rumah yang hangat bagi seluruh penghuninya. Rumah yang setiap saat mau mendengarkan kesedihan dan kegembiraan. Rumah yang tidak pernah sepi dari anak yang tadarus Al Qur'an meski satu ayat.  Anak -anakku.... Setiap orang tua ingin jadi ensiklopedi buat anaknya, menjawab semua pertanyaannya walau kadang dijaw...

Tantangan Orang Tua Di Era Digital

 Menjadi orang tua di era digital saat ini tantangannnya sangat besar. Setiap anak meskipun tak memiliki gadget sangat mudah mengakses informasi/ konten yang  nyaris tanpa filter. Mulai dari twitter, instagram, youtube sampai facebook bisa diakses dengan mudah. Kita orang tua mau tidak mau belajar mengikuti perkembangan zaman, ikut tanpa hanyut. Bagaimana peran orang tua dalam mengontrol penggunaan gadget,sementara anak tak selalu dalam pengawasan kita. Ujaran kebencian, bullying, pornografi paling sering ditemui.  Mereka anak - anak, bahkan orang tua kehilangan unggah ungguh, bagaimana berkomentar yang sopan, jari mereka lebih cepat daripada nurani/akal pikiran. Tontotan yang jelas melecehkan intelektualitas seseorang menjamur dan banyak peminatnya. Google sebagai mesin pencari terbesar membuat mereka malas berpikir, malas membaca dan menjadi ahli copas. Mana tahu mereka informasi yang valid atau tidak, bahkan portal berita online pun seringkali ngawur dalam memberi info...